CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Kamis, 09 Oktober 2008

SUFIKS DALAM BAHASA INDONESIA


SUFIKS

CONTOH

-kan

-an

-i

-nya

-wan

-wati

-is

-man

-da

-wi

Satukan

Makanan

Kotori

Agaknya

Peragawan

Peragawati

Nasionalis

Seniman

Ayahanda

Manusiawi

Afiks –kan tidak merupakan simulfiks bersama dengan afiks meN-, di-, atau ter-, sekalipun dalam pemakaian bahasa sering bersama-sama dengan ketiga afiks itu. Akibat pertemuannya dengan bentuk dasarnya, afiks –kan mempunyai beberapa makna, yang dapat digolongkan sebagai berikut:

  1. menyatakan makna ‘benefaktif’, maksudnya perbuatan itu pada bentuk dasar dilakukan untuk orang lain. Misalnya: membacakan: ‘membaca (…) untuk orang lain’
  2. menyatakan makna kausatif. Makna ini dapat digolongkan menjadi empat golongan, ialah:

Ø menyebabkan (…) melakukan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya: mendudukkan, ‘menyebabkan (…) duduk’

Ø menyebabkan (…) menjadi seperti yang tersebut pada bentuk dasar. Makna itu timbul sebagai akibat pertemuan afiks –kan dengan bentuk dasar yang berupa kata sifat. Misalnya: meluaskan, ‘menyebabkan (…) jadi luas’

Ø menyebabkan (…) jadi atau menganggap (…) sebagai apa yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya: mendewakan, ‘menganggap (…) sebagai dewa’

Ø membawa/memasukkan (…) ke tempat yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya: memenjarakan, ‘memasukkan (…) ke penjara’

Seperti halnya afiks –kan, afiks –i tidak merupakan simulfiks dengan afiks meN-, di-, dan ter-. Afiks –i mempunyai beberapa makna, yang dapat digolongkan sebagai berikut:

  1. menyatakan bahwa ‘perbuatan pada bentuk dasar itu dilakukan berulang-ulang’. Misalnya: memukuli
  2. menyatakan makna ‘memberi apa yang tersebut pada bentuk dasar pada …’. Misalnya: menandatangani
  3. objeknya menyatakan ‘tempat’. Misalnya: menduduki
  4. menyatakan makna ‘kausatif’. Misalnya: mengotori

Afiks –an hanya mepunyai 1 fungsi, ialah sebagai bentuk nominal, sedangkan makna yang dinyataknnya dapat digolongkan sebagai berikut:

  1. menyatakan ‘sesuatu yang berhubungan dengan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar’. Misalnya: karangan, ‘hasil mengarang’
  2. menyatakan makna ‘tiap-tiap’. Misalnya: (majalah) bulanan, ‘(majalah) yang terbit tiap-tiap bulan’
  3. menyatakan makna ‘satuan yang terdiri dari apa yang tersebut pada kata dasar’. Misalnya: literan, meteran, dan sebagainya.
  4. menyatakan makna ‘beberapa’. Misalnya: ribuan
  5. menyatakan makna ‘sekitar’. Misalnya: tahun 60-an

Afiks –wan hanya mempunyai satu fungsi, ialah sebagai pembentuk kata nominal. Makna yang dinyatakan sebagai berikut:

  1. menyatakan ‘orang yang ahli dalam hal yang tersebut pada bentuk dasar’. Misalnya: sejarawan, negarawan dan sebagainya.
  2. menyatakan ‘orang yang memiliki sifat yang tersebut pada kata dasar’. Misalnya: cendikiawan, sosiawan dan sebagainya.

Morfem-morfem ku, mu, nya, kau, dan isme, bukan merupakan sufiks, melainkan termasuk golongan klitik karena morfem-morfem tersebut memiliki arti leksikal, sedangkan sufiks tidak. Morfem nya yang termasuk golongan klitik ialah yang mempunyai pertalian arti dengan ia. Morfem nya yang sudah tidah mempunyai pertalian arti dengan ia, misal rupanya, agaknya, dan kiranya, termasuk golongan sufiks karena hubungan dengan arti leksikalnya sudah putus.

Sufiks-sufiks yang berasal dari bahasa asing antara lain, -wan, -wati, -is, -man, dan –wi. Satuan –in seperti pada muslimin dan –at pada muslimat, yang merupakan sufiks pada bahasa aslinya (bahasa Arab), tidak atau belum dapat digolongkan sufiks dalam bahasa Indonesia, meskipun di samping muslimin dan muslimat terdapat muslim, oleh karena sufiks-sufiks asing tersebut belum mampu keluar dari lingkungannya, maksudnya belum sanggup melekat pada sauna lain yang tidak berasal dari bahasa aslinya. Demikian pula satuan –if (sportif), -al (ideal), -or (proklamator), -ik (patriotik), dan –us (politikus).

Mengenai masalah apakah sufiks berasal dari bahasa asing atau berasal dari bahasa sendiri, tidaklah penting. Yang penting adalah masalah produktivitas sufiks-sufiks itu. Berdasarkan produktivitasnya, sufiks dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

  1. sufiks yang produktif, yaitu sufiks yang hidup, yang mampu melekat pada kata-kata atau morfem-morfem. Misal: -kan, -an, -i dan –wan.
  2. sufiks yang improduktif, yaitu sufiks yang sudah usang, yang distribusinya terbatas pada beberapa kata, yang tidak lagi membentuk kata-kata baru. Misal: -wati, -is, -man, -da, dan –wi.

0 komentar: