Nama : Mega Fiyani
Kelas : 3. A
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
KONFIKS DALAM BAHASA INDONESIA
Bahasa adalah sebuah sistem. Maksudnya bahasa itu bukanlah sejumlah unsur yang terkumpul secara tak beraturan. Bahasa terdiri dari subsistem-subsistem, artinya bahasa bukanlah sistem tunggal. Bahasa terdiri dari beberapa subsistem yaitu subsistem fonologi, subsistem gramatikal, dan subsistem leksikan. Subsistem bahasa itu tersusun secara hierarkis, dalam bahasa dikenal dengan tataran linguistik. Jika diurutkan dari tataran yang terendah sampai yang tertinggi adalah fonem, morfem, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Dalam hal ini, akan dijelaskan tentang tataran morfem melalui kajian morfologi.
Morfologi itu sendiri menurut Prof. Dr. Ramlan yang merupakan Guru Besar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Sedangkan proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya dinamakan proses morfologis. Dimana proses tersebut dibedakan menjadi: afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan abrevisasi.
Dalam bahasa Indonesia dikenal afiksasi yang telah diklasifikasikan atas: prefiks, infiks, sufiks, kombinasi afiks dan konfiks. Disini saya akan menjelaskan konfiks dalam bahasa Indonesia. Konfiks terdiri dari unsur, satu di muka bentuk dasar dan satu di belakang bentuk dasar dan berfungsi sebagai satu morfem terbagi. Setidaknya di dalam bahasa Indonesia terdapat empat konfiks, yaitu: ke-...-an, pen-...-an, per-...-an, dan ber-…-an.
1.ke-…-an
Ada dua jenis ke-…-an. Pertama ke-…-an yang berfungsi membentuk kata benda (nominal), misalnya kebaikan, keberanian, ketulusan, keberhasilan, dsb. Yang kedua berfungsi membentuk kata verbal, baik yang tergolong kata kerja maupun kata sifat, misalnya kehujanan, kedinginan, kehilangan, kematian, kedengaran, dsb. Makna ke-…-an dapat digolongan sebagai berikut:
a.menyatakan ‘suatu abstraksi’ atau ‘hal’
Contoh:
kebaikan :‘hal baik’
kegembiraan :‘gembira’
keberhasilan :‘hal berhasil’
b.menyatakan ‘hal-hal ‘
Contoh:
(masalah) kemanusiaan :‘hal-hal yang berhubungan dengan masalah manusia’
(masalah) keduniaan :‘hal-hal yang berhubungan dengan masalah manusia’
c.menyatakan ‘dapat dikenai perbuatan’ atau ‘dapat di…’
Contoh:
kelihatan : ‘dapat dilihat’
kedengaran : ‘dapat didengar’
d.menyatakan makna ‘dalam keadaan tertimpa akibat perbuatan, keadaan, atau hal’
Contoh:
kehujanan : ‘dalam keadaan tertimpa hujan’
kelaparan : ‘dalam keadaan tertimpa lapar’
e.menyatakan makna ‘tempat’ atau daerah’
Contoh:
kepresidenan : ‘tempat presidenan’
kerajaan : ‘daerah raja’
kedutaan : ‘tempat duta’
2.peN-...-an
hanya memiliki satu fungsi yaitu sebagai pembentuk kata nominal. pe-…-an sebagian besar merupakan nominalisasi dari kata berafiks meN-, baik disertai afiks –i atau –kan, maupun tidak, misalnya pembacaan sejalan dengan membaca, penamaan sejalan dengan menamai, menamakan. Berbagai makna pen-...-an, yaitu:
a.menyatakan ‘hal melakukan perbuatan’
Contoh:
pembacaan : ‘hal membaca’
pembelian : ’hal membeli’
penulisan : ‘hal menulis’
b.menyatakan ‘cara melakukan perbuatan’
Contoh:
penampilan : ‘cara menampilkan’
penyajian : ‘cara menyajikan’
pengiriman : ‘cara mengirimkan’
c.menyatakan ‘hasil perbuatan’
Dalam kalimat
Menurut pendengaran saya, Rhendy termasuk mahasiswa yang sangat kreatif.
Menurut penglihatan saya, pencopet itu bersembunyi di belakang gerbong kereta.
Makna pendengaran dan penglihatan di atas bukan menunjukan makna ‘hal’ atau ‘cara’, melainkan makna ‘hasil’. Jadi, pendengaran maksudnya ‘hasil usaha mendengarkan’ dan penglihatan maksudnya ‘hasil usaha melihatkan’
d.menyatakan ‘alat yang digunakan untuk melakukan perbuatan tersebut’
Contoh:
Dalam kalimat
Pendengaran orang tua itu sudah tidak jelas lagi
Pendengaran tersebut bukannya menunjukan makna ‘hasil’ melainkan makna ‘alat untuk mendengar’.
e.menyatakan ‘tempat melakukan perbuatan’
Contoh:
pengadilan : ’tempat mengadili’
pembuangan : ’tempat membuang’
3.per-...-an
Mempunyai satu fungsi, ialah sebagai pembentuk kata nominal. per-…-an merupakan nominalisasi dari kata kerja pada umumnya sejalan dengan kata kerja bentuk ber-(an), misalnya perdebatan sejalan dengan berdebat, perkenalan sejalan dengan berkenalan, dsb. Makna per-…-an, yaitu:
a.menyatakan ‘perihal’
Contoh:
pergedungan : ‘perihal gedung’
Perindusrian : ‘perihal industri’
b.menyatakan ‘hal atau hasil’
Contoh:
persahabatan : ‘hal atau hasil bersahabat’
persekutuan : ‘hal atau hasil sekutu’
c.menyatakan ‘tempat’
Contoh:
peristirahatan : ‘tempat beristirahat’
perhentian : ‘tempat berhenti’
d.menyatakan ‘daerah’
Contoh:
perkampungan : ‘daerah yang berupa atau terdiri dari kampung ; daerah kampung’
perairan : ‘daerah yang berupa atau terdiri dari air ; daerah air’
e.menyatakan ‘berbagai-bagai’
Contoh:
persyaratan : ‘berbagai-bagai syarat’
peralatan : ‘berbagai-bagai alat’
4.ber-…-an
Hanya memiliki satu fungsi, ialaha sebagai pembentuk kata kerja. Ber-…-an memiliki makna, yaitu:
a.menyatakan ‘perbuatan yang dilakukan oleh banyak pelaku’
Contoh:
berdatangan : ‘(banyak pelaku) datang’
bermunculan : ‘(banyak pelaku) muncul’
b.menyatakan ‘perbuatan dilakukan berulang-ulang’
Contoh:
berloncatan : ‘meloncat berkali-kali’
bergulingan : ‘berguling berkali-kali’
c.menyatakan makna ‘saling’
Contoh:
bersentuhan : ‘saling menyentuh’
berpandangan : ‘saling memandang’
DAFTAR PUSTAKA
Ramlan, Prof. Drs. M., Morfologi Suatu Tinjauan Deskiptif, CV. Karyono, Yogyakarta, 1985.
HP, Ahmad., Linguistik Umum, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1996.
Jumat, 10 Oktober 2008
Diposting oleh pendidikan bahasa dan sastra indonesia di 21.08
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar