CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Sabtu, 11 Oktober 2008

PRONOMINA_GILANG NUGRAHA

PRONOMINA

Batasan dan ciri Pronomina

 Pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu pada kata lain.
 Fungsinya : Pronomina menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina, seperti subjek, objek, dan-dalam maacm kalimat tertentu-juga predikat
 Ciri lain pronomina : acuannya dapat berpindah-pindah karena bergantung pada siapa yang menjadi pembicara/penulis, siapa yang menjadi pendengar/pembaca, atau siapa/apa yang dibicarakan.
 Macam-macan Pronomina :
1. Pronomina Persona
2. Pronomina Penunjuk
3. Pronomina Penanya

Macam-Macam Pronomina

1. Pronomina Persona

 Pronomina Persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacu pada orang
 Acuannya : 1. Pada diri sendiri (pronomina persona pertama)
2. Pada orang yang diajak bicara ( pronomina persona kedua)
3. Pada orang yang dibicarakan (pronomina persona ketiga)

Persona Makna
Tunggal Jamak
Natral Ekslusif Inklusif
Pertama Saya, aku, ku-, -ku kami kita
Kedua Engkau, kamu, anda, dikau, kau-, -mu Kalian, kamu sekalian, anda sekalian
Ketiga Ia, dia, beliau,
-nya mereka

Bagan : Pronomina

A. Pronomina Persona Pertama

 Pronomina Persona Pertama : saya, aku, ku-, -ku, kami dan kita
 Kami bersifat inklusif artinya pronomina itu mencangkup pembicara/penulis dan orang lain di pihaknya, tetapi tidak mencangkup orang lain di pihak pendengar/ pembaca.
Contoh : Kami akan berangkat ke Kampus hari ini

Kita bersifat inklusif artinya pronomina itu tidak saja mencangkupi pembicara/penulis, tetapi juga pendengar/pembaca, dan mungkin pula pihak lain
Contoh : Kita akan berangkat ke Kampus hari ini

B. Pronomina Persona Kedua

 Pronomina Persona Kedua : engkau, kamu, anda, dikau, kau- dan –mu
 Kaidah pemakainnya
a. engkau, kamu, dan –mu dipakai oleh :
1. orang tua terhadap orang muda yang telah dikenal baik dan lama
Contoh : Pukul berapa kamu ke Kampus, Nak?
2. orang yang status sosialnya lebih tinggi
Contoh : Apakah hasil rapat kemarin sudah kamu ketik, Lisa?
3. orang yang mempunyai hubungan akrab, tanpa memandang umur atau sosial
Contoh : kapan kerbaumu akan kamu carikan rumput?
b. anda dimaksudkan untuk menetralkan hubungan, dipakai dalam:
1. hubungan yang tak pribadi
Contoh : Pakailah sabun ini, kulit anda akan bersih
2. hubungan bersemuka, tetapi pembicara tidak ingin bersikap terlalu formal atau terlalu akrab
Contoh : anda sekarang tinggal di mana?
c. seperti halnya daku, dikau juga dipakai dalam ragam bahasa tertentu, khhususnya ragam sastra
Contoh : Percayalah, dikaulah yang menjadi tambatan hatiku
 Persona Kedua mempunyai bentuk jamak, yaitu :
1. kalian
2. persona kedua ditambah dengan kata sekalian
Contoh : Hal ini terserah anda sekalian
 Persona kedua memiliki variasi bentuk hanyalah engkau dan kamu. Bentuk terikat itu masing-masing adalah kau- dan –mu

C. Pronomina Persona ketiga

 Macam persona ketiga : (1) Ia, dia atau –nya (2) beliau
 Meskipun ia dan dia dalam banyak hal berfungsi sama, ada kendala tertentu yang dimiliki masing-masing. Dalam posisi sebagai subjek,atau di depan verba, ia dan dia sama-sama dipakai. Akan tetapi, jika befungsi sebagai objek, atau terletak di sebelah kanan dari yang diterangkan, hanya bentuk dia dan –nya yang dapat muncul. Demikian juga dalam kaitanya dengan preposisi, dia dan –nya dapat dipakai
 Kaidah pemakaianya :
a. beliau menyatakan rasa hormat
contoh : Saya rasa beliau akan menerima usulan ini
b. –nya dipakai untuk
1. mengubah kategori suatu verba menjadi nominal
contoh : datangnya kapan?
2. subjek dalam kalimat topik-komen
contoh : rumah kami atapnya bocor
topik komen
3. sebagai penanda ketakrifan
contoh : Kemarin pak ali membeli mobil.
Bannya baru


 pronomina persona ketiga jamak adalah mereka dipakai untuk:
1. yang bersifat insani
contoh: Mereka akan membawa makanannya sendiri
2. dalam cerita fiksi atau narasi lain, mereka kadang dipakai untuk mengacu pada binatang atau benda yang dianggap bernyawa
contoh: sejak dahulu kucing dan anjing selalu bermusuhan. Tiap kali bertemu mereka selalu berkelahi

2. Pronomina Penunjuk

 Pronomina Penunujuk ada 3 macam: 1. Pronomina Penunjuk umum
2. pronomina penunjuk tempat
3. pronomina penunjuk ihwal
 Macam-macam pronomina penunjuk

1. pronomina penunjuk umum, yaitu: ini, itu dan anu
Kaidah penggunaannya :
a. ini mengacu pada acuan yang dekat dengan penulis/pembicara, pada masa yang akan datang atau pada informasi yang akan disampaikan
contoh: saya ini, masalah ini, rumusan ini
b. anu dipakai bila seseorang tidak dapat mengingat benar kata apa yang harus dipakai, padahal ujaran telah terlanjur dimulai
contoh: Mereka mau anu-mau pinjem kredit di bank
anu kadang-kadang dipakai bila si pembicara tidak mau secara eksplisit mengatakan apa yang dia maksud
contoh: Duduklah dengan baik supaya anumu tidak kelihatan
c. Pronomina penunjuk umum dapat juga mandiri sepenuhnya sebagai nomina, pronomina penunjuk itu dapat brfungsi sebagai subjek atau objek kalimatn dan bahkan dalam kalimat yang berpredikat nomina dapat pula berfungsi sebagai predikat.
Contoh: ini/itu/anu yang menyebabkan penyakit kulit.
Jawaban di ini/itu
2. Pronomina penunjuk tempat, yaitu: sini(dekat), situ(agak jauh), sana(jauh)
Karena menunjuk lokasi, pronomina ini sering digunakan dengan preposisi pengacu arah, di/ke/dari
Contoh: Kita akan bertolak dari sini
Barang-Barangnya ada di situ
Siapa yang mau pergi ke sana?
3. Pronomina penunjuk ihwal, yaitu: begini(dekat), begitu(jauh)
Jauh dan dekatnya bersifat psikologis
Contoh: Dia mengatakan begini
Jangan berbuat begitu lagi









4. Pronomina Penanya

 Pronomina penanya adalah pronomina yang dipakai sebagai pemarkah pertanyaan
 Pronomina Penanya:
1. Siapa (orang), contohnya: Siapa dosen itu?
2. apa (barang), contohnya: apa yang kalian bawa?
3. mana (pilihan), contohnya: Sepedamu yang mana?
4. mengapa, kenapa (sebab), contohnya: mengapa bumi bulat?
5. kapan, bilamana (waktu), contohnya: kapan kamu datang?
6. di mana, ke mana, dari mana (tempat), contohnya: di manakah Rudi?
7. bagaiman (cara), contohnya: bagaimana ikan bernafas?
8. berapa (jumlah atau urutan), contohnya: berapa jari ayam?
 Ditinjau dari bentuknya, sebenarnya hanya ada dua unsur yang mendasari semua kata penanya, yakni apa dan mana. Dua unsur dasar itu kita kembangkan menjadi bentuk lain dengan mengikuti pola berikut.

Ø
Si
Meng-
Ken-
k-n
(ke)ber


+ apa


Apa
Siapa
Mengapa
Kenapa
Kapan
(ke)berapa
Di
Ke
Dari
Bagai
bila + mana Di mana
Ke mana
Dari mana
Bagaimana
bilamana
























DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan., Lavolipa, Hans: Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.2003. Balai Pustaka: Jakarta

Jumat, 10 Oktober 2008

Nama : Mega Fiyani
Kelas : 3. A
Prodi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

KONFIKS DALAM BAHASA INDONESIA
Bahasa adalah sebuah sistem. Maksudnya bahasa itu bukanlah sejumlah unsur yang terkumpul secara tak beraturan. Bahasa terdiri dari subsistem-subsistem, artinya bahasa bukanlah sistem tunggal. Bahasa terdiri dari beberapa subsistem yaitu subsistem fonologi, subsistem gramatikal, dan subsistem leksikan. Subsistem bahasa itu tersusun secara hierarkis, dalam bahasa dikenal dengan tataran linguistik. Jika diurutkan dari tataran yang terendah sampai yang tertinggi adalah fonem, morfem, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Dalam hal ini, akan dijelaskan tentang tataran morfem melalui kajian morfologi.
Morfologi itu sendiri menurut Prof. Dr. Ramlan yang merupakan Guru Besar di Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Sedangkan proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya dinamakan proses morfologis. Dimana proses tersebut dibedakan menjadi: afiksasi, reduplikasi, komposisi, dan abrevisasi.
Dalam bahasa Indonesia dikenal afiksasi yang telah diklasifikasikan atas: prefiks, infiks, sufiks, kombinasi afiks dan konfiks. Disini saya akan menjelaskan konfiks dalam bahasa Indonesia. Konfiks terdiri dari unsur, satu di muka bentuk dasar dan satu di belakang bentuk dasar dan berfungsi sebagai satu morfem terbagi. Setidaknya di dalam bahasa Indonesia terdapat empat konfiks, yaitu: ke-...-an, pen-...-an, per-...-an, dan ber-…-an.
1.ke-…-an
Ada dua jenis ke-…-an. Pertama ke-…-an yang berfungsi membentuk kata benda (nominal), misalnya kebaikan, keberanian, ketulusan, keberhasilan, dsb. Yang kedua berfungsi membentuk kata verbal, baik yang tergolong kata kerja maupun kata sifat, misalnya kehujanan, kedinginan, kehilangan, kematian, kedengaran, dsb. Makna ke-…-an dapat digolongan sebagai berikut:
a.menyatakan ‘suatu abstraksi’ atau ‘hal’
Contoh:
kebaikan :‘hal baik’
kegembiraan :‘gembira’
keberhasilan :‘hal berhasil’

b.menyatakan ‘hal-hal ‘
Contoh:
(masalah) kemanusiaan :‘hal-hal yang berhubungan dengan masalah manusia’
(masalah) keduniaan :‘hal-hal yang berhubungan dengan masalah manusia’
c.menyatakan ‘dapat dikenai perbuatan’ atau ‘dapat di…’
Contoh:
kelihatan : ‘dapat dilihat’
kedengaran : ‘dapat didengar’

d.menyatakan makna ‘dalam keadaan tertimpa akibat perbuatan, keadaan, atau hal’
Contoh:
kehujanan : ‘dalam keadaan tertimpa hujan’
kelaparan : ‘dalam keadaan tertimpa lapar’

e.menyatakan makna ‘tempat’ atau daerah’
Contoh:
kepresidenan : ‘tempat presidenan’
kerajaan : ‘daerah raja’
kedutaan : ‘tempat duta’

2.peN-...-an
hanya memiliki satu fungsi yaitu sebagai pembentuk kata nominal. pe-…-an sebagian besar merupakan nominalisasi dari kata berafiks meN-, baik disertai afiks –i atau –kan, maupun tidak, misalnya pembacaan sejalan dengan membaca, penamaan sejalan dengan menamai, menamakan. Berbagai makna pen-...-an, yaitu:
a.menyatakan ‘hal melakukan perbuatan’
Contoh:
pembacaan : ‘hal membaca’
pembelian : ’hal membeli’
penulisan : ‘hal menulis’

b.menyatakan ‘cara melakukan perbuatan’
Contoh:
penampilan : ‘cara menampilkan’
penyajian : ‘cara menyajikan’
pengiriman : ‘cara mengirimkan’

c.menyatakan ‘hasil perbuatan’
Dalam kalimat
Menurut pendengaran saya, Rhendy termasuk mahasiswa yang sangat kreatif.
Menurut penglihatan saya, pencopet itu bersembunyi di belakang gerbong kereta.
Makna pendengaran dan penglihatan di atas bukan menunjukan makna ‘hal’ atau ‘cara’, melainkan makna ‘hasil’. Jadi, pendengaran maksudnya ‘hasil usaha mendengarkan’ dan penglihatan maksudnya ‘hasil usaha melihatkan’

d.menyatakan ‘alat yang digunakan untuk melakukan perbuatan tersebut’
Contoh:
Dalam kalimat
Pendengaran orang tua itu sudah tidak jelas lagi
Pendengaran tersebut bukannya menunjukan makna ‘hasil’ melainkan makna ‘alat untuk mendengar’.

e.menyatakan ‘tempat melakukan perbuatan’
Contoh:
pengadilan : ’tempat mengadili’
pembuangan : ’tempat membuang’

3.per-...-an
Mempunyai satu fungsi, ialah sebagai pembentuk kata nominal. per-…-an merupakan nominalisasi dari kata kerja pada umumnya sejalan dengan kata kerja bentuk ber-(an), misalnya perdebatan sejalan dengan berdebat, perkenalan sejalan dengan berkenalan, dsb. Makna per-…-an, yaitu:
a.menyatakan ‘perihal’
Contoh:
pergedungan : ‘perihal gedung’
Perindusrian : ‘perihal industri’

b.menyatakan ‘hal atau hasil’
Contoh:
persahabatan : ‘hal atau hasil bersahabat’
persekutuan : ‘hal atau hasil sekutu’

c.menyatakan ‘tempat’
Contoh:
peristirahatan : ‘tempat beristirahat’
perhentian : ‘tempat berhenti’

d.menyatakan ‘daerah’
Contoh:
perkampungan : ‘daerah yang berupa atau terdiri dari kampung ; daerah kampung’
perairan : ‘daerah yang berupa atau terdiri dari air ; daerah air’

e.menyatakan ‘berbagai-bagai’
Contoh:
persyaratan : ‘berbagai-bagai syarat’
peralatan : ‘berbagai-bagai alat’
4.ber-…-an
Hanya memiliki satu fungsi, ialaha sebagai pembentuk kata kerja. Ber-…-an memiliki makna, yaitu:
a.menyatakan ‘perbuatan yang dilakukan oleh banyak pelaku’
Contoh:
berdatangan : ‘(banyak pelaku) datang’
bermunculan : ‘(banyak pelaku) muncul’

b.menyatakan ‘perbuatan dilakukan berulang-ulang’
Contoh:
berloncatan : ‘meloncat berkali-kali’
bergulingan : ‘berguling berkali-kali’

c.menyatakan makna ‘saling’
Contoh:
bersentuhan : ‘saling menyentuh’
berpandangan : ‘saling memandang’

DAFTAR PUSTAKA
Ramlan, Prof. Drs. M., Morfologi Suatu Tinjauan Deskiptif, CV. Karyono, Yogyakarta, 1985.
HP, Ahmad., Linguistik Umum, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1996.

BENTUK DAN MAKNA NOMINALISASI DENGAN KE- DAN PE-

Nama: Utami Setiawati Darmadi
NIM : 107013000657
Kelas : 3A


A. Nominalisasi dengan ke-

Nomina yang diturunkan dengan penambahan prefiks ke- tidak banyak dalam bahasa Indonesia. Fungsi awalan ke- ialah membentuk kata benda/nominal. Awalan ke- dalam bahasa Indonesia tidak produktif lagi, artinya tidak ada lagi kata-kata baru yang dibentuk dengan awalan itu kecuali kata-kata yang telah ada, yaitu: ketua, kehendak, kekasih, dan kerangka.

ketua : ‘pemimpin’
kehendak: ‘berhubungan dengan keinginan atau kemauan terhadap sesuatu’
kekasih : ‘orang yang dikasihi atau disayangi’
kerangka: ‘sesuatu yang belum sempurna terjadinya’

Afiks ke- hanya mempunyai dua makna, ialah:
1. Menyatakan kumpulan yang terdiri dari jumlah tersebut pada bentuk dasar. Misalnya:

kedua (orang) : ‘kumpulan yang terdiri dari dua orang’
ketiga (orang) : ‘kumpulan yang terdiri dari tiga orang’
keempat (pasang) : ‘kumpulan yang terdiri dari empat pasang’

2. Menyatakan urutan. Misalnya:

(pegawai) kedua
(bagian) ketiga
(rumah) kedelapan
(meja) keempat


B. Nominalisasi dengan pe-

Awalan pe- mempunyai alomorf: pem-, pen-, peng-, peny-, sesuai dengan bunyi antara pada kata bentukan dengan awalan me- atau ber-. Afiks ¬pe- kadang-kadang sulit dibedakan dengan afiks peN- karena pada suatu kondisi afiks peN- mungkin kehilangan N–nya, ialah apabila diikuti bentuk dasar yang berfonem awal / l, r, y, w, dan nasal/, misalnya pada kata-kata pelerai, pelukis, peramal, perokok, pewaris. Dalam hal ini dapat dipakai suatu petunjuk bahwa afiks peN- pada umumnya bertalian dengan kata kerja berafiks meN-, sedangkan afiks pe- bertalian dengan kata kerja berafiks ber-:

penulis : bertalian dengan menulis
pembaca : bertalian dengan membaca
penggali : bertalian dengan menggali
pembawa : bertalian dengan membawa
pelerai : bertalian dengan melerai
pelukis : bertalian dengan melukis
peramal : bertalian dengan meramal
pewaris : bertalian dengan mewaris
peninju : bertalian dengan meninju

pejalan kaki : bertalian dengan berjalan kaki
petani : bertalian dengan bertani
pegulat : bertalian dengan bergulat
pekerja : bertalian dengan bekerja
pejuang : bertalian dengan berjuang
pedagang : bertalian dengan berdagang
petinju : bertalian dengan bertinju

Dengan uraian di atas jelaslah bahwa pada kata-kata pelerai, pelukis, peramal, perokok, dan pewaris terdapat afiks peN- karena kata-kata itu bertalian dengan kata kerja berafiks meN-, sedangkan pada kata-kata pejalan kaki, petani, pegulat, dan seterusnya terdapat afiks pe- karena kata-kata itu bertalian dengan kata kerja bentuk ber-.

Afiks pe- hanya mempunyai satu fungsi, yaitu sebagai pembentuk kata nominal, dan pada umumnya menyatakan makna ‘yang biasa/pekerjaannya/ gemar melakukan pekerjaan yang tersebut pada bentuk dasar’, dan ‘orang yang (pekerjaannya) di…. Misalnya:

pejalan kaki : ‘orang yang (pekerjaannya) berjalan kaki’
petani : ‘orang yang (pekerjaannya) bertani’
pegulat : ‘orang yang (pekerjaannya) bergulat’
pedagang : ‘orang yang (pekerjaannya) berdagang’
penatar : ‘orang yang (pekerjaannya) menatar’
peninju : ‘orang yang (pekerjaannya) meninju’
penyuruh : ‘orang yang (pekerjaannya) menyuruh’
petinju : ‘orang yang (pekerjaannya) bertinju’
pesuruh : ‘orang yang (pekerjaannya) disuruh’
petatar : ‘orang yang (pekerjaannya) ditatar’
petugas : ‘orang yang (pekerjaannya) ditugaskan’

Mengapa peninju dan petinju memiliki makna yang berbeda? Bentuk dasar tinju dapat kita bentuk menjadi kata kerja meninju dan bertinju; orang yang meninju ialah peninju, sedangkan orang yang biasa bertinju ialah petinju. Demikian pula bila kita ambil bentuk dasar jabat. Bentuk dasar ini dapat kita bentuk menjadi kata kerja menjabat dan berjabat. Dari kata kerja menjabat lahir bentuk kata benda penjabat yang berarti ‘orang yang menjabat’, sedangkan dari kata kerja berjabat lahir bentuk kata benda pejabat yang artinya ‘orang yang mempunyai jabatan atau pangkat.
Jadi, orang yang memangku jabatan secara tetap disebut pejabat, sedangkan orang yang hanya menjabat jabatan itu untuk sementara disebut penjabat. Contohnya, Sebelum terbentuk Kabinet Pembangunan III, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja adalah penjabat Menteri Luar Negeri. Kita juga dapat mengatakan bahwa beliau adalah pjabat sementara Menteri Luar Negeri. Mengapa bukan penjabat sementara? Karena penjabat sudah menagndung makna ‘sementara’.


DAFTAR PUSTAKA


Alwi, Hasan dan Soenjono Dardjowidjojo. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Badudu, J.S. 1981. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Prima.
Badudu, J.S. 1994. Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar. Jakarta: PT Gramedia.
Ramlan, M. 2001. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono.

Kamis, 09 Oktober 2008

SUFIKS DALAM BAHASA INDONESIA


SUFIKS

CONTOH

-kan

-an

-i

-nya

-wan

-wati

-is

-man

-da

-wi

Satukan

Makanan

Kotori

Agaknya

Peragawan

Peragawati

Nasionalis

Seniman

Ayahanda

Manusiawi

Afiks –kan tidak merupakan simulfiks bersama dengan afiks meN-, di-, atau ter-, sekalipun dalam pemakaian bahasa sering bersama-sama dengan ketiga afiks itu. Akibat pertemuannya dengan bentuk dasarnya, afiks –kan mempunyai beberapa makna, yang dapat digolongkan sebagai berikut:

  1. menyatakan makna ‘benefaktif’, maksudnya perbuatan itu pada bentuk dasar dilakukan untuk orang lain. Misalnya: membacakan: ‘membaca (…) untuk orang lain’
  2. menyatakan makna kausatif. Makna ini dapat digolongkan menjadi empat golongan, ialah:

Ø menyebabkan (…) melakukan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya: mendudukkan, ‘menyebabkan (…) duduk’

Ø menyebabkan (…) menjadi seperti yang tersebut pada bentuk dasar. Makna itu timbul sebagai akibat pertemuan afiks –kan dengan bentuk dasar yang berupa kata sifat. Misalnya: meluaskan, ‘menyebabkan (…) jadi luas’

Ø menyebabkan (…) jadi atau menganggap (…) sebagai apa yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya: mendewakan, ‘menganggap (…) sebagai dewa’

Ø membawa/memasukkan (…) ke tempat yang tersebut pada bentuk dasar. Misalnya: memenjarakan, ‘memasukkan (…) ke penjara’

Seperti halnya afiks –kan, afiks –i tidak merupakan simulfiks dengan afiks meN-, di-, dan ter-. Afiks –i mempunyai beberapa makna, yang dapat digolongkan sebagai berikut:

  1. menyatakan bahwa ‘perbuatan pada bentuk dasar itu dilakukan berulang-ulang’. Misalnya: memukuli
  2. menyatakan makna ‘memberi apa yang tersebut pada bentuk dasar pada …’. Misalnya: menandatangani
  3. objeknya menyatakan ‘tempat’. Misalnya: menduduki
  4. menyatakan makna ‘kausatif’. Misalnya: mengotori

Afiks –an hanya mepunyai 1 fungsi, ialah sebagai bentuk nominal, sedangkan makna yang dinyataknnya dapat digolongkan sebagai berikut:

  1. menyatakan ‘sesuatu yang berhubungan dengan perbuatan yang tersebut pada bentuk dasar’. Misalnya: karangan, ‘hasil mengarang’
  2. menyatakan makna ‘tiap-tiap’. Misalnya: (majalah) bulanan, ‘(majalah) yang terbit tiap-tiap bulan’
  3. menyatakan makna ‘satuan yang terdiri dari apa yang tersebut pada kata dasar’. Misalnya: literan, meteran, dan sebagainya.
  4. menyatakan makna ‘beberapa’. Misalnya: ribuan
  5. menyatakan makna ‘sekitar’. Misalnya: tahun 60-an

Afiks –wan hanya mempunyai satu fungsi, ialah sebagai pembentuk kata nominal. Makna yang dinyatakan sebagai berikut:

  1. menyatakan ‘orang yang ahli dalam hal yang tersebut pada bentuk dasar’. Misalnya: sejarawan, negarawan dan sebagainya.
  2. menyatakan ‘orang yang memiliki sifat yang tersebut pada kata dasar’. Misalnya: cendikiawan, sosiawan dan sebagainya.

Morfem-morfem ku, mu, nya, kau, dan isme, bukan merupakan sufiks, melainkan termasuk golongan klitik karena morfem-morfem tersebut memiliki arti leksikal, sedangkan sufiks tidak. Morfem nya yang termasuk golongan klitik ialah yang mempunyai pertalian arti dengan ia. Morfem nya yang sudah tidah mempunyai pertalian arti dengan ia, misal rupanya, agaknya, dan kiranya, termasuk golongan sufiks karena hubungan dengan arti leksikalnya sudah putus.

Sufiks-sufiks yang berasal dari bahasa asing antara lain, -wan, -wati, -is, -man, dan –wi. Satuan –in seperti pada muslimin dan –at pada muslimat, yang merupakan sufiks pada bahasa aslinya (bahasa Arab), tidak atau belum dapat digolongkan sufiks dalam bahasa Indonesia, meskipun di samping muslimin dan muslimat terdapat muslim, oleh karena sufiks-sufiks asing tersebut belum mampu keluar dari lingkungannya, maksudnya belum sanggup melekat pada sauna lain yang tidak berasal dari bahasa aslinya. Demikian pula satuan –if (sportif), -al (ideal), -or (proklamator), -ik (patriotik), dan –us (politikus).

Mengenai masalah apakah sufiks berasal dari bahasa asing atau berasal dari bahasa sendiri, tidaklah penting. Yang penting adalah masalah produktivitas sufiks-sufiks itu. Berdasarkan produktivitasnya, sufiks dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

  1. sufiks yang produktif, yaitu sufiks yang hidup, yang mampu melekat pada kata-kata atau morfem-morfem. Misal: -kan, -an, -i dan –wan.
  2. sufiks yang improduktif, yaitu sufiks yang sudah usang, yang distribusinya terbatas pada beberapa kata, yang tidak lagi membentuk kata-kata baru. Misal: -wati, -is, -man, -da, dan –wi.